Minggu, 03 Februari 2013

Terima Kasih ya Allah




Pagi yang indah kusambut dengan senyuman. Kicauan burung nan merdu menemani langkahku menuntut ilmu di sekolah. Bertemu dengan teman-teman dan saling berbagi cerita. Aku adalah orang yang telah diberi hidayah oleh Allah SWT untuk memakai jilbab. Aku bangga menjadi seorang remaja yang berjilbab.
Setelah sampai di sekolah, aku bergegas menuju kelasku. Kususuri lorong sekolah yang masih sepi.
“Dooorrr!” spontan aku menoleh belakang. “Izaaaaaaaaaaaaaaaa ngagetin aku aja sih” cetus aku agak kesal. “Maaf Al” jawab Faiza sembari tertawa. “Iya gak papa za, tumben kamu udah berangkat” tanyaku. “Yadong Al aku tau kamu berangkatnya pagi aku mau nanya sesuatu” jawab Faiza dengan menatapku lekat-lekat. “Tanya apasih, bikin penasaran aja huuu” jawabku.
Sudah kuduga kelas masih sepi. Hanya aku dan Faiza yang baru datang. Aku terdiam saat mendengar bunyi perut kelaparan.
“Za? Itu suara perutmu ya?” tanyaku serius”. “eh eh iya Al” jawab Faiza dengan nada agak lesu. Aku bertanya lebih serius pada dia “kamu belum sarapan? Kenapa? Ayo aku antar ke kantin”. “Iya tadi aku buru buru belum sempat sarapan. Aku pengen cerita sama kamu Al” Jawab Iza. “udah makan dulu deh ayo ke kantin, nanti ceritanya di taman aja ya” ajakku. “oke” Iza menjawab singkat namun penuh semangat.
Aku dan Iza bergegas ke taman di samping sekolah setelah mengisi perut Iza. Kunikmati sejuknya udara pagi dan kupanjatkan rasa syukurku terhadap Allah SWT.
“Ayo mau cerita apa cantik?” kumulai percakapan diantara kami. “al.............” Izapun mengeluarkan sepatah kata. “iya apa, jangan setengah setengah dong baby aku jadi bingung” jawabku. “ah kamu bisa aja. Al aku pengen banget memakai jilbab, aku sudah sadar akan wajibnya perempuan yang sudah baligh untuk menutup auratnya dan memakai jilbab. Orang tuaku setuju banget tetapi Akhtar tidak membolehkanku memakai jilbab” jawab Iza dengan nada yang sedih. “Alhamdulillah, aku bahagia sob dengar kamu sudah mempunyai niat untuk menutup auratmu dan berjilbab. Za, Akhtar bukan siapa siapamu. Kamu tau tidak? Dalam islam pacaran itu diharamkan dari segala dalil. Di Alqur’an saja sudah menjelaskan larangan mendekati zina” jawabku dengan pengertian. “Tapi Al, aku sayang sama Akhtar” jawab Iza ngotot. “sayang, lelaki yang baik,sholeh tidak akan pernah mengajak orang yang ia cintai berpacaran. Karena pacaran adalah nafsu.” Tegasku. Iza hanya diam. “Iza sayang, apa kamu kurang perhatian dari orang tuamu yang selalu menyayangimu? Apa kamu kurang kasih sayang dari Allah SWT. Allah selalu menyayangi kita. Jangan buat Allah cemburu.” Sambungku. “ha? Maksutnya Allah cemburu Al? Tanya Iza. Akupun menjawab “Allah cemburu jika HambaNya melanggar apa yang ia haramkan dan sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an”. “Aliyaaaaa, bantu aku berubah. Aku tidak mau mengecewakan Allah  SWT lagi. Mulai besok insyaAllah aku akan memakai jilbab. Bantu aku Al” jawab Iza dengan memelukku erat. “Alhamdulillah terima kasih yaAllah atas hidayah yang telah Engkau turunkan untuk sahabatku ini” kataku penuh rasa syukur. Faiza melepaskan tubuhku. Ia mengajakku untuk menemui Akhtar. “Al aku mau putusin Akhtar sekarang juga. Aku gak mau menunda nunda” ajak Iza penuh semangat. “Iya Za” jawabku dengan tersenyum.
“Akhtar, aku mau ngomong serius sama kamu. Al tunggu disini sebentar ya” pinta Faiza. Aku hanya tersenyum. “Tar, maafin aku. Kita harus putus. Aku nggak mau melanggar larangan Allah SWT.” Kata Faiza. “Kenapa Za? Kita pacaran kan nggak macem macem” jawab Akhtar sedih. “Maaf ya” jawab Iza sembari menghampiriku dan bergegas pergi dari kelas Akhtar”.
“Aliya, aku lega. Makasih sobat” kata Faiza dengan raut wajah penuh makna. “sama sama Za” jawabku dengan senyum. “Al, nanti pulang sekolah ke rumahku ya? Aku mau bilang sama Mamahku. Antar aku beli baju dan jilbab ya. Tenang aja aku pakai tabunganku sendiri kok” celoteh Faiza dengan tertawa bahagia. “Wah langsung beli nih, iya oke deh nanti aku temenin. Mau beli kemana Za? Jawabku penasaran. “ke rumahmu dong, Bundamu kan punya toko baju sama jilbab. Ngapain repot kesana kemari. Alhamdulillah kalau dikasih diskon. Haha” jawab Iza dengan semangat. “Oh gitu yaa, nggak minta gratis sekalian Za? Hehe” jawabku gak mau kalah. “Ah Aliya, hehehe” jawab Faiza dengan malu malu.
Terdengar suara bel sekolah berbunyi. Pertanda jam pulang sekolah. Suara murid-murid yang sorak sorak karena pulang lebih awalpun memenuhi seisi sekolah. Faiza menghampiri tempat dudukku dan mengajakku segera pulang.
“Al aku nebeng ya, aku dianter supir papah tadi pagi” Faiza meminta. “Oke 10ribu ya neng” jawabku dengan canda. “oke bang yuuuk” jawab Iza membalas candaanku.
Kami menuju tempat pertama yaitu rumah Faiza. Iza menceritakan semua yang terjadi hari ini dan membolehkannya untuk melanjutkan agenda yang sudah kami rencanakan. Faiza nampak cantik mengenakan baju lengan panjang dan rok yang panjang, namun ia belum memakai jilbab.
“Loh sayang, kok nggak make jilbab sih?” tanya mamah Iza. “Aku nggak punya jilbab sama sekali mamah” jawab Iza dengan sedih. “Ambil di lemari mamah, pilih yang kamu suka. Jangan lama lama kasian Aliya nunggunya” ujar Mamah Iza. “siap mamah” jawab Iza.
“Nah anak mamah cantiknya” kata mamah Iza. “iyadong tante, kan sudah menaati perintah Allah hehe” candaku. “makasih makasih haha” jawab Iza penuh canda.
Beranjak dari rumah Faiza, kami menuju agenda ke dua. Yaitu ke rumahku. Kebetulan toko baju bundaku berada di samping rumah, kami tidak  perlu capek capek kesana sini. Setelah sampai di rumah, langsung kuajak Faiza menemui Bundaku. Dengan senang hati bunda membantu Faiza memilih seragam dan jilbab yang pas. Bunda memberi diskon pada Faiza. Diapun senang karena Bunda juga memberi sebuah jilbab cantik. Tak henti-hentinya Iza berterima kasih padaku dan Bunda. Hari semakin siang, ternyata sudah masuk waktu dhuhur. Akupun pamit pada bunda untuk melaksanakan sholat. Faiza dan Bunda masih di toko karena mereka sedang berhalangan. Kuambil air wudhu dan bergegas menuju kamarku. Setelah selesai sholat, aku menghampiri Faiza dan Bunda. Tak lama berbincang-bincang, Faiza menutup pembicaraan kami.
“Tante, Iza pulang dulu ya supir papah sudah di luar. Makasih Tante, makasih Aliya” ujar Faiza. “sama sama nak, lain kali boleh ajak mamah liat liat toko tante ya hehe. Oh iya jangan sungkan main disini” kata Bundaku. “Iya tante InsyaAllah ya” jawab Iza. “Wah Bunda promosi” kataku. “Gakpapa Al hehe, yaudah aku pulang dulu ya. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” ucap Faiza. Aku dan Bunda menjawab serentak “Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”.
Akupun pergi ke kamar. Aku sangat bahagia hari ini karena bisa membantu sahabatku untuk menutup auratnya. Wajahku berseri-seri dan tak jarang aku senyum-senyum sendiri. “Terima kasih ya Allah” ucapku.

Nama : Hafida Indrastiyani
Kelas : X S 3
No     : 09
Sekolah : SMA 1 KUDUS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar